Notebook vs Desktop part 1

Kenapa part 1? Karena saya yakin bakal ada part 2,3,4….. Saat ini notebook vs desktop sudah benar2 mencapai tahap yang unik. Dua tahun lalu, desktop masih juaranya.. di akhir tahun 2009 ini, menurut kabar, perbandingan penjualan notebook vs desktop sudah menjadi 65 : 35 … Luar biasa.. apa benar semua orang Indonesia lebih butuh notebook ketimbang desktop ya?

Saat nulis blog ini, saya menggunakan notebook. Duduk di atas kasur dengan menyender ke bantalyang disusun. Enak, tapi kok rasanya masih lebih enak pada saat saya nulis ribuan kata dengan desktop di meja kantor dengan kursi alakadarnya itu? Notebook memang praktis sih.. tapi kenyamanannya masih bergantung pada yang pakai. Saya sepertinya akan milih desktop kalau harus bekerja dalam jangka waktu panjang. Kalau browsing sih okelah dengan notebook.

Main game dengan notebook? No no no.. bahkan notebook gaming yang US$ 2000 pun belum bisa menyamai kenyamanan desktop gaming US$ 999 dengan layar 22″ 1080p.. no contest here my friend..

Designing dengan notebook? lagi-lagi it’s a no-no.. Desktop PC dengan kemampuan tinggi, harganya masih lebih murah dan lebih nyaman dipakai ketimbang notebook.

Kenyamanan untuk membawa komputer kemana2 adalah daya tarik notebook.. Tapi.. ini membawa saya ke masalah daya tahan baterai.. Rata-rata notebook di bawah 10jt rupiah daya tahan baterainya cuma di bawah 4 jam (non-stop browsing dan ngetik). Rating rata-rata ada di kisaran 3-4 jam. Jadi, harus bawa-bawa charger dan cari colokan listrik di mana-mana.. sungguh ngga nyaman. Setelah meeting 2 jam dengan client, pengguna notebook udah panik nyari colokan listrik sebelum meeting ke-2 berlanjut. Okelah, masalah ini distop sampai di sini dulu. Intinya, notebook yang tersedia pun belum bisa dibilang sarana komputasi yang benar-benar mobile.

Pada akhirnya, saya jadi punya pandangan bahwa jika seseorang membutuhkan komputer dalam pekerjaan atau kehidupannya sehari-hari, dia membutuhkan minimal dua unit. Boros? Mahal? Tidak juga. Asalkan jeli, sebenarnya tidak perlu mahal-mahal.

Untuk di rumah, desktop dengan harga 4-5 juta, sudah mencukupi untuk kebutuhan dasar dengan prosesor dual core (intel e5200 atau AMD X240). Bahkan dengan kisaran 6 jutaan, Anda sudah bisa menggunakan prosesor quad core! (AMD X4 620, misalnya).

Untuk di jalan, jika kebutuhannya hanya browsing, presentasi ringan, dan mengetik saja, netbook dengan harga kisaran 3 jutaan sudah mencukupi. Jika butuh tenaga ekstra dan layar besar, notebook di kisaran +/- 5jt juga sudah mumpuni (dengan 2 core).

Total investasi Anda berkisar 8-11 juta rupiah. Kenyamanan akan menjadi berlipat ganda. Bagi yang memiliki keluarga, desktop dapat dipakai di rumah saat Anda pergi bekerja. Bagi yang single dan memiliki koneksi internet baik (baca: unlimited), desktop bisa dipakai untuk mendownload film di rumah sembari Anda pergi bekerja.

Saat ini, saya melihat banyak upaya untuk menggabungkan fungsi notebook dan desktop.. Ada beberapa metode yang sepertinya akan berhasil, tapi saat ini sepertinya masih mahal yah. Notebook dengan docking yang dilengkapi graphics card 3D seperti pada Acer Ferrari terbaru mungkin akan menarik seandainya harganya sudah bisa ditekan lebih rendah lagi. Solusi netbook gigabyte yang menggunakan docking berdiri juga sangat menarik seandainya itu bukan berbasis prosesor Atom.

Hadirnya format mini-ITX yang mungil juga akan semakin membuat desktop menjadi menarik dan berpenampilan lebih cantik. Masalahnya, kita masih harus menunggu harganya turun.

Pada akhirnya, belum ada konklusi.. yuk kitaikuti perkembangan2 berikutnya.

Advertisement

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.