Untuk kebanyakan orang, DSLR adalah impian.. hayoo ngaku.. pasti pengen punya DSLR kan? Alasannya sederhana: mau punya kamera yang hasil fotonya bagus. Kamera saku ga bisa menghasilkan foto bagus, kalo DSLR pasti lebih bagus.
Ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar.
DSLR mampu menghasilkan foto yang bagus di tangan pengguna yang mahir. Jika penggunanya kurang mahir, kecenderungannya DSLR akan mengecewakan pengguna. Kenapa demikian?
DSLR dirancang untuk memberikan kebebasan pengaturan kepada penggunanya. Jadi, akan banyak fungsi manual, pengaturan-pengaturan, pilihan-pilihan yang semuanya bergantung pada kebutuhan penggunanya. Masalahnya, kalau penggunanya belum paham mengenai segala aturan dasar fotografi, mereka biasanya akan “tersesat”.
Sementara itu, kamera saku adalah kamera yang dirancang untuk pengguna awam. Sudah makin banyak kamera saku yang fungsi automatic-nya sudah sangat baik. Jika 2 tahun yang lalu saya menyarankan untuk melakukan pengaturan2 khusus pada kamera saku, saat ini, dengan kamera saku tertentu, saya akan menyarankan penggunaan mode full-auto.
Investasi yang harus dikeluarkan untuk mengongkosi DSLR juga perlu dicermati. Sebuah DSLR dengan lensa standarnya bisa berkisar 4.8jt (termurah). Masalahnya, lensanya masih tergolong kurang baik. Untuk memperbaikinya, harus beli lensa yang berkualitas sedang (3.5-6jt). DSLR murah saat ini belum bisa merekam video. Jadi, belum multifungsi. Anda harus merogoh kocek di kisaran 9-10juta untuk memperoleh fungsi tersebut. Sementara itu, kamera saku terbaik akan berkisar 4.5jt, sudah dilengkapi dengan lensa yang rentang zoom-nya baik, kualitas sedang, dan fungsi perekaman video.
Hasil foto juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Meski noise pada kamera saku cenderung lebih tinggi.. karena hasil cetakan yang dibuat oleh pengguna kamera saku juga jarang melampaui ukuran A4, jadi, gangguan juga jarang terlihat. Sebagai acuan dasar, kamera ponsel terbaik masih belum mampu mengalahkan kamera saku dari brand terkemuka dengan harga kisaran 1.5jt rupiah. Akan tetapi, kamera saku terbaik, dalam kondisi pencahayaan baik, bisa bersaing dengan DSLR yang dilengkapi lensa standar (baca:murah).
Pada akhirnya, keputusan sih kembali kepada Anda. Bagi pemilik kamera saku yang hendak membeli DSLR, saran saya sih jangan menjual kamera sakunya. Selain harga second-hand-nya cukup jatuh, Anda akan tetap membutuhkan kamera saku tersebut. Hampir semua fotografer profesional tetap mempertahankan kamera sakunya karena alasan kepraktisan penggunaan.